Bhiksuni Thubten Chodron
Banyak sekali berita akhir-akhir ini, yang mengarahkan orang-orang yang peduli untuk merefleksi keadaan dunia saat ini. Namun umumnya kita tidak melakukannya dengan cara yang bijak. Bagi banyak orang, refleksi ini menciptakan penderitaan mental, dan pikiran kita menjadi ketat dan ketakutan.
Di dalam ketakutan itu terdapat banyak “I-grasping” atau “kemelekatan-saya”, yang kadang-kadang kita salah-artikan sebagai welas-asih. Kita pikir, “Ketika saya melihat dunia, dan melihat begitu banyak penderitaan [artinya] saya merasa welas-asih pada orang-orang.” Tapi sebenarnya kita sengsara, kita merasakan suatu rasa putus asa, takut, depresi dan sebagainya. Ini bukanlah welas-asih sungguhan. Dengan tidak mengenali ini, ada orang yang takut merasa welas-asih karena mereka menyangka welas-asih hanya membuat kita merasa sengsara. Ini adalah pemikiran yang berbahaya karena dapat membuat kita menutup hati terhadap orang lain.
Welas-asih berfokus pada penderitaan orang lain, tetapi kita merasa putus-asa dan ketakutan, kita berfokus pada penderitaan kita sendiri. Oleh karena itu, merasa depresi ketika melihat penderitaan di dunia bukanlah indikasi dari welas asih. Melainkan kita jatuh dalam kesengsaraan pribadi. Sangat berguna untuk menyadari hal ini ketika kita sepertinya masuk ke dalam kondisi putus-asa.
Monday, March 2, 2015
Monday, January 19, 2015
Mengatasi Keraguan Melalui Pengalaman Langsung
Shaila Catherine
Apakah anda pernah dapati diri sendiri menolak—atau mungkin meragukan—realita dari hal-hal yang belum anda alami sendiri?
Dalam Majjhima Nikaya, ada satu cerita tentang orang yang terlahir buta yang tidak bisa melihat gelap maupun terang, bentuk-bentuk berwarna, atau bintang, matahari, maupun bulan, dan dia bilang: “Saya tidak mengenal mereka. Saya tidak melihat mereka. Oleh karena itu, mereka tidak ada.”
Orang buta ini menolak apa pun yang di luar pengalamannya sendiri. Tendensi ini—untuk meragukan apa yang belum dialami—adalah hal yang cukup umum di lingkungan Dhamma Barat. Contohnya, saya mendengar orang mendiskon potensi stabilitas jhana—bersikukuh bahwa tidak mungkin untuk terampil dalam kondisi-kondisi konsentrasi stabil seperti itu di zaman sekarang ini. Saya juga mendengar orang-orang menyatakan keraguan terhadap kemungkinan terbebaskan dari keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan.
Beberapa orang, meskipun tertarik pada Dhamma, berpikir bahwa pencerahan sempurna hampirlah tidak mungkin di dunia saat ini. Tetapi hanya karena kita tidak menemukan orang-orang yang tercerahkan di lingkaran teman-teman kita tidaklah berarti kita harus melepaskan harapan untuk pencerahan dapat terjadi pada orang-orang seperti kita.
Apakah anda pernah dapati diri sendiri menolak—atau mungkin meragukan—realita dari hal-hal yang belum anda alami sendiri?
Dalam Majjhima Nikaya, ada satu cerita tentang orang yang terlahir buta yang tidak bisa melihat gelap maupun terang, bentuk-bentuk berwarna, atau bintang, matahari, maupun bulan, dan dia bilang: “Saya tidak mengenal mereka. Saya tidak melihat mereka. Oleh karena itu, mereka tidak ada.”
Orang buta ini menolak apa pun yang di luar pengalamannya sendiri. Tendensi ini—untuk meragukan apa yang belum dialami—adalah hal yang cukup umum di lingkungan Dhamma Barat. Contohnya, saya mendengar orang mendiskon potensi stabilitas jhana—bersikukuh bahwa tidak mungkin untuk terampil dalam kondisi-kondisi konsentrasi stabil seperti itu di zaman sekarang ini. Saya juga mendengar orang-orang menyatakan keraguan terhadap kemungkinan terbebaskan dari keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan.
Beberapa orang, meskipun tertarik pada Dhamma, berpikir bahwa pencerahan sempurna hampirlah tidak mungkin di dunia saat ini. Tetapi hanya karena kita tidak menemukan orang-orang yang tercerahkan di lingkaran teman-teman kita tidaklah berarti kita harus melepaskan harapan untuk pencerahan dapat terjadi pada orang-orang seperti kita.
Labels:
Buddhist Laywomen,
kewaspadaan,
meditasi,
Nibbana,
Shaila Catherine
Monday, October 13, 2014
Menemukan Buddhisme di Bangladesh
Stav Zotalis
Perjalanan saya ke Buddhisme sungguh tak disangka. Saya lahir di keluarga migran Yunani Ortodoks 48 tahun lalu. Meskipun dilahirkan di Sydney, Australia, rasanya seperti tinggal di desa Yunani. Saya berbahasa Yunani di rumah, kebanyakan teman saya adalah orang Yunani, saya menghadiri sekolah Yunani (sesudah sekolah berbahasa Inggris reguler), menghadiri sekolah minggu Yunani Ortodoks, menari tarian Yunani, makan makanan Yunani, memimpikan impian Yunani (yaitu menikah dengan pria profesional Yunani, dua anak, pekerjaan dengan gaji tinggi, dan rumah dua lantai di daerah bagus). Pendeta Yunani Ortodoks memainkan peranan penting dalam hidup saya, meskipun pengaruhnya lebih pada moral dan sosial daripada spiritual. Ia membaptis saya, mendirikan sekolah Yunani yang saya hadiri, dan selalu hadir dalam acara penting seperti Natal, Paskah, pernikahan dua kakak perempuan saya kepada pria profesional Yunani, dan sayangnya, juga pada penguburan ayah saya ketika saya berusia 29 tahun.
![]() |
| Stav bersama ayahnya |
Monday, September 29, 2014
Waktu, Mereka adalah Sebuah Perubahan
Venerable Damchö Diana Finnegan
Monday, September 15, 2014
Pulang
Anja Tanhane
"Pulang itu seperti mengecilkan volume, sehingga saya bisa mendengar diri sendiri lagi."
Steve Jampijinpa, dari dokumenter, Milpirri, Winds of Change
Monday, September 1, 2014
Ikut Aku
Stephanie Mohan
Tanpa tubuh
bergetar
di luar
sana.
Makhluk kosong ini
telah melihat segala.
Pikiran dan rupa berlabel
dikondisikan karma.
Tak mengetahui penyebab lampau
menderita sekarang.
Tak tahu, tak lihat, tak di sini, tak di sana.
Bukan ini, bukan itu.
bergetar
di luar
sana.
Makhluk kosong ini
telah melihat segala.
Pikiran dan rupa berlabel
dikondisikan karma.
Tak mengetahui penyebab lampau
menderita sekarang.
Tak tahu, tak lihat, tak di sini, tak di sana.
Bukan ini, bukan itu.
Monday, August 4, 2014
Revolusi Bhikkhuni: Feminisme Religius dalam Buddhisme Thai
Tanaporn Pichitsakulchai
Brisbane, 15 Juni 2014 (Alochonaa): Karena sebagian besar masyarakat Thailand menganut Buddha Theravada, agama di Thailand tidak diragukan lagi berperan besar untuk identitas Thailand dan kehidupan sehari-hari. Dalam lingkup agama, wanita Thailand dibatasi secara tradisional ke peran umat awam wanita (upasika) dan Mae chi (biarawati Buddhis delapan sila) dalam konteks umat Buddha Thailand. Di luar Buddhisme, secara tradisional peran wanita dibatasi sebagai istri dan ibu. Dalam beberapa dekade terakhir telah ada upaya untuk menghidupkan kembali penahbisan bhikkhuni (biarawati) dalam Buddhisme Theravada Thai, meskipun upaya ini ditentang oleh Sangha Thailand dan komunitas agama yang lebih luas.
Subscribe to:
Posts (Atom)






