Tara Brach
Sekitar 12 tahun yang lalu, beberapa guru Buddhis mulai berbagi tentang cara kewaspadaan baru yang membantu secara langsung untuk bekerja dengan emosi yang intens dan sulit. Alat ini disebut RAIN (akronim dari proses empat langkah), yang dapat diterapkan di berbagai tempat dan situasi. RAIN mengarahkan perhatian kita secara sistematis dan jelas sehingga memotong kekacauan dan stres.
Langkah-langkah ini memberi kita ruang saat muncul momen yang menyakitkan; dan begitu kita sering mengulangnya, langkah-langkah ini memperkuat kapasitas kita untuk kembali pada kebenaran diri yang terdalam. Seperti langit yang jernih dan udara yang bersih setelah hujan yang dingin, latihan kewaspadaan ini membawa suatu pembukaan yang baru dan menenangkan kehidupan kita sehari-hari.
Sekarang aku telah mengajarkan RAIN kepada ribuan siswa, klien, dan profesional kesehatan mental, sambil terus mengadaptasi dan mengembangkannya menjadi versi yang dapat ditemukan di bab ini. Aku menjadikannya sebagai latihan inti dalam kehidupanku sendiri. Inilah empat langkah RAIN yang disajikan dengan cara yang kuanggap paling bermanfaat:
R Recognize what is happening (mengenali apa yang sedang terjadi)
A Allow life to be just as it is (mengizinkan hidup seperti apa adanya)
I Investigate inner experience with kindness (menginvestigasi pengalaman batin dengan kebaikan)
N Non-Identification (tanpa identifikasi).
RAIN secara langsung mengkondisi-ulang kebiasaan-kebiasaan dimana Anda menolak pengalaman pengalaman momen ke momen. Tidak perduli apakah Anda menolak “hal tersebut” dengan mencaci dalam kemarahan, dengan merokok, atau membenamkan diri dalam pikiran obsesif. Upaya Anda untuk mengendalikan kehidupan di dalam diri dan di sekitar Anda yang sesungguhnya memotong Anda dari hati Anda sendiri dan dari kehidupan ini. RAIN mulai untuk memangkas pola-pola tanpa-sadar segera setelah kita mengambil langkah pertama.
Showing posts with label kewaspadaan. Show all posts
Showing posts with label kewaspadaan. Show all posts
Monday, March 30, 2015
Monday, March 16, 2015
Apakah Kewaspadaan Membuatmu Lebih Welas Asih?
Shauna Shapiro
Aku mengikuti retreat meditasi pertamaku 17 tahun yang lalu di Thailand. Saat tiba, aku kurang memahami tentang kewaspadaan dan tentunya aku tidak bisa berbahasa Thai.
Di vihara, aku samar-samar memahami ajaran bhikkhu Thai yang indah, yang mengajarkanku untuk memperhatikan nafas yang masuk dan keluar melalui lubang hidung. Tampaknya cukup mudah. Maka aku duduk dan mencoba memperhatikan, [dengan target] enam belas jam sehari, dan dengan cepat aku mendapatkan realisasi besar pertama: aku tidak dapat mengendalikan pikiranku.
Aku putus asa dan agak terganggu dengan banyaknya pikiran yang mengembara tersebut. Aku perhatikan satu, dua atau tiga nafas – lalu pikiranku pergi, melamun, meninggalkan tubuhku duduk di sana, dalam kerangka kosong. Putus asa dan tidak sabar, aku mulai bertanya-tanya, “Mengapa aku tidak dapat melakukannya? Orang lain tampaknya sedang duduk dengan tenang. Apa yang salah denganku?”
Aku mengikuti retreat meditasi pertamaku 17 tahun yang lalu di Thailand. Saat tiba, aku kurang memahami tentang kewaspadaan dan tentunya aku tidak bisa berbahasa Thai.
Di vihara, aku samar-samar memahami ajaran bhikkhu Thai yang indah, yang mengajarkanku untuk memperhatikan nafas yang masuk dan keluar melalui lubang hidung. Tampaknya cukup mudah. Maka aku duduk dan mencoba memperhatikan, [dengan target] enam belas jam sehari, dan dengan cepat aku mendapatkan realisasi besar pertama: aku tidak dapat mengendalikan pikiranku.
Aku putus asa dan agak terganggu dengan banyaknya pikiran yang mengembara tersebut. Aku perhatikan satu, dua atau tiga nafas – lalu pikiranku pergi, melamun, meninggalkan tubuhku duduk di sana, dalam kerangka kosong. Putus asa dan tidak sabar, aku mulai bertanya-tanya, “Mengapa aku tidak dapat melakukannya? Orang lain tampaknya sedang duduk dengan tenang. Apa yang salah denganku?”
Labels:
Buddhist Laywomen,
compassion,
karuna,
kewaspadaan,
meditasi,
mindfulness,
welas asih
Monday, January 19, 2015
Mengatasi Keraguan Melalui Pengalaman Langsung
Shaila Catherine
Apakah anda pernah dapati diri sendiri menolak—atau mungkin meragukan—realita dari hal-hal yang belum anda alami sendiri?
Dalam Majjhima Nikaya, ada satu cerita tentang orang yang terlahir buta yang tidak bisa melihat gelap maupun terang, bentuk-bentuk berwarna, atau bintang, matahari, maupun bulan, dan dia bilang: “Saya tidak mengenal mereka. Saya tidak melihat mereka. Oleh karena itu, mereka tidak ada.”
Orang buta ini menolak apa pun yang di luar pengalamannya sendiri. Tendensi ini—untuk meragukan apa yang belum dialami—adalah hal yang cukup umum di lingkungan Dhamma Barat. Contohnya, saya mendengar orang mendiskon potensi stabilitas jhana—bersikukuh bahwa tidak mungkin untuk terampil dalam kondisi-kondisi konsentrasi stabil seperti itu di zaman sekarang ini. Saya juga mendengar orang-orang menyatakan keraguan terhadap kemungkinan terbebaskan dari keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan.
Beberapa orang, meskipun tertarik pada Dhamma, berpikir bahwa pencerahan sempurna hampirlah tidak mungkin di dunia saat ini. Tetapi hanya karena kita tidak menemukan orang-orang yang tercerahkan di lingkaran teman-teman kita tidaklah berarti kita harus melepaskan harapan untuk pencerahan dapat terjadi pada orang-orang seperti kita.
Apakah anda pernah dapati diri sendiri menolak—atau mungkin meragukan—realita dari hal-hal yang belum anda alami sendiri?
Dalam Majjhima Nikaya, ada satu cerita tentang orang yang terlahir buta yang tidak bisa melihat gelap maupun terang, bentuk-bentuk berwarna, atau bintang, matahari, maupun bulan, dan dia bilang: “Saya tidak mengenal mereka. Saya tidak melihat mereka. Oleh karena itu, mereka tidak ada.”
Orang buta ini menolak apa pun yang di luar pengalamannya sendiri. Tendensi ini—untuk meragukan apa yang belum dialami—adalah hal yang cukup umum di lingkungan Dhamma Barat. Contohnya, saya mendengar orang mendiskon potensi stabilitas jhana—bersikukuh bahwa tidak mungkin untuk terampil dalam kondisi-kondisi konsentrasi stabil seperti itu di zaman sekarang ini. Saya juga mendengar orang-orang menyatakan keraguan terhadap kemungkinan terbebaskan dari keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan.
Beberapa orang, meskipun tertarik pada Dhamma, berpikir bahwa pencerahan sempurna hampirlah tidak mungkin di dunia saat ini. Tetapi hanya karena kita tidak menemukan orang-orang yang tercerahkan di lingkaran teman-teman kita tidaklah berarti kita harus melepaskan harapan untuk pencerahan dapat terjadi pada orang-orang seperti kita.
Labels:
Buddhist Laywomen,
kewaspadaan,
meditasi,
Nibbana,
Shaila Catherine
Monday, April 21, 2014
Makan dengan Waspada, Sesendok Demi Sesendok
Judith Toy
Makan dengan kewaspadaan perlu latihan. Awalnya terasa seperti terpaksa, namun anda harus akui bahwa makanan terasa lebih lezat daripada sebelumnya ketika anda meletakkan garpu anda dan mengunyah setiap suapan 30 kali atau lebih, atau hingga makanan itu menjadi “lembut,” sambil memikirkan apa yang anda kunyah, menamainya—misalnya, kacang hijau.
Anda membayangkan kacang itu dulunya adalah benih yang ditanam di tanah hangat, kemudian tunas dan daun muncul berlilitan, kemudian bunga kecil seperti anggrek dengan empat kelopak, atau mekaran kelopak putih berbentuk bintang-lima dengan tengah kuning, tergantung jenis kacang itu. Anda membayangkan gambaran mental tentang sinar mentari yang jatuh pada bunga itu, bagaimana bunga itu memutar wajahnya menghadap ke cahaya, mengintip dari balik kehijauannya. Kemudian dengan perlahan dan ajaib terjadi transformasi dari bunga menjadi polong putih kecil yang berubah menjadi hijau sembari mengembang dan tumbuh di bawah sinar hangat dan siraman hujan. Dalam kacang ini, kosmos hadir.
![]() |
| Foto oleh Jamain |
Anda membayangkan kacang itu dulunya adalah benih yang ditanam di tanah hangat, kemudian tunas dan daun muncul berlilitan, kemudian bunga kecil seperti anggrek dengan empat kelopak, atau mekaran kelopak putih berbentuk bintang-lima dengan tengah kuning, tergantung jenis kacang itu. Anda membayangkan gambaran mental tentang sinar mentari yang jatuh pada bunga itu, bagaimana bunga itu memutar wajahnya menghadap ke cahaya, mengintip dari balik kehijauannya. Kemudian dengan perlahan dan ajaib terjadi transformasi dari bunga menjadi polong putih kecil yang berubah menjadi hijau sembari mengembang dan tumbuh di bawah sinar hangat dan siraman hujan. Dalam kacang ini, kosmos hadir.
Subscribe to:
Posts (Atom)



