Tara Brach
Sekitar 12 tahun yang lalu, beberapa guru Buddhis mulai berbagi tentang cara kewaspadaan baru yang membantu secara langsung untuk bekerja dengan emosi yang intens dan sulit. Alat ini disebut RAIN (akronim dari proses empat langkah), yang dapat diterapkan di berbagai tempat dan situasi. RAIN mengarahkan perhatian kita secara sistematis dan jelas sehingga memotong kekacauan dan stres.
Langkah-langkah ini memberi kita ruang saat muncul momen yang menyakitkan; dan begitu kita sering mengulangnya, langkah-langkah ini memperkuat kapasitas kita untuk kembali pada kebenaran diri yang terdalam. Seperti langit yang jernih dan udara yang bersih setelah hujan yang dingin, latihan kewaspadaan ini membawa suatu pembukaan yang baru dan menenangkan kehidupan kita sehari-hari.
Sekarang aku telah mengajarkan RAIN kepada ribuan siswa, klien, dan profesional kesehatan mental, sambil terus mengadaptasi dan mengembangkannya menjadi versi yang dapat ditemukan di bab ini. Aku menjadikannya sebagai latihan inti dalam kehidupanku sendiri. Inilah empat langkah RAIN yang disajikan dengan cara yang kuanggap paling bermanfaat:
R Recognize what is happening (mengenali apa yang sedang terjadi)
A Allow life to be just as it is (mengizinkan hidup seperti apa adanya)
I Investigate inner experience with kindness (menginvestigasi pengalaman batin dengan kebaikan)
N Non-Identification (tanpa identifikasi).
RAIN secara langsung mengkondisi-ulang kebiasaan-kebiasaan dimana Anda menolak pengalaman pengalaman momen ke momen. Tidak perduli apakah Anda menolak “hal tersebut” dengan mencaci dalam kemarahan, dengan merokok, atau membenamkan diri dalam pikiran obsesif. Upaya Anda untuk mengendalikan kehidupan di dalam diri dan di sekitar Anda yang sesungguhnya memotong Anda dari hati Anda sendiri dan dari kehidupan ini. RAIN mulai untuk memangkas pola-pola tanpa-sadar segera setelah kita mengambil langkah pertama.
Showing posts with label Buddhist Laywomen. Show all posts
Showing posts with label Buddhist Laywomen. Show all posts
Monday, March 30, 2015
Monday, March 16, 2015
Apakah Kewaspadaan Membuatmu Lebih Welas Asih?
Shauna Shapiro
Aku mengikuti retreat meditasi pertamaku 17 tahun yang lalu di Thailand. Saat tiba, aku kurang memahami tentang kewaspadaan dan tentunya aku tidak bisa berbahasa Thai.
Di vihara, aku samar-samar memahami ajaran bhikkhu Thai yang indah, yang mengajarkanku untuk memperhatikan nafas yang masuk dan keluar melalui lubang hidung. Tampaknya cukup mudah. Maka aku duduk dan mencoba memperhatikan, [dengan target] enam belas jam sehari, dan dengan cepat aku mendapatkan realisasi besar pertama: aku tidak dapat mengendalikan pikiranku.
Aku putus asa dan agak terganggu dengan banyaknya pikiran yang mengembara tersebut. Aku perhatikan satu, dua atau tiga nafas – lalu pikiranku pergi, melamun, meninggalkan tubuhku duduk di sana, dalam kerangka kosong. Putus asa dan tidak sabar, aku mulai bertanya-tanya, “Mengapa aku tidak dapat melakukannya? Orang lain tampaknya sedang duduk dengan tenang. Apa yang salah denganku?”
Aku mengikuti retreat meditasi pertamaku 17 tahun yang lalu di Thailand. Saat tiba, aku kurang memahami tentang kewaspadaan dan tentunya aku tidak bisa berbahasa Thai.
Di vihara, aku samar-samar memahami ajaran bhikkhu Thai yang indah, yang mengajarkanku untuk memperhatikan nafas yang masuk dan keluar melalui lubang hidung. Tampaknya cukup mudah. Maka aku duduk dan mencoba memperhatikan, [dengan target] enam belas jam sehari, dan dengan cepat aku mendapatkan realisasi besar pertama: aku tidak dapat mengendalikan pikiranku.
Aku putus asa dan agak terganggu dengan banyaknya pikiran yang mengembara tersebut. Aku perhatikan satu, dua atau tiga nafas – lalu pikiranku pergi, melamun, meninggalkan tubuhku duduk di sana, dalam kerangka kosong. Putus asa dan tidak sabar, aku mulai bertanya-tanya, “Mengapa aku tidak dapat melakukannya? Orang lain tampaknya sedang duduk dengan tenang. Apa yang salah denganku?”
Labels:
Buddhist Laywomen,
compassion,
karuna,
kewaspadaan,
meditasi,
mindfulness,
welas asih
Monday, January 19, 2015
Mengatasi Keraguan Melalui Pengalaman Langsung
Shaila Catherine
Apakah anda pernah dapati diri sendiri menolak—atau mungkin meragukan—realita dari hal-hal yang belum anda alami sendiri?
Dalam Majjhima Nikaya, ada satu cerita tentang orang yang terlahir buta yang tidak bisa melihat gelap maupun terang, bentuk-bentuk berwarna, atau bintang, matahari, maupun bulan, dan dia bilang: “Saya tidak mengenal mereka. Saya tidak melihat mereka. Oleh karena itu, mereka tidak ada.”
Orang buta ini menolak apa pun yang di luar pengalamannya sendiri. Tendensi ini—untuk meragukan apa yang belum dialami—adalah hal yang cukup umum di lingkungan Dhamma Barat. Contohnya, saya mendengar orang mendiskon potensi stabilitas jhana—bersikukuh bahwa tidak mungkin untuk terampil dalam kondisi-kondisi konsentrasi stabil seperti itu di zaman sekarang ini. Saya juga mendengar orang-orang menyatakan keraguan terhadap kemungkinan terbebaskan dari keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan.
Beberapa orang, meskipun tertarik pada Dhamma, berpikir bahwa pencerahan sempurna hampirlah tidak mungkin di dunia saat ini. Tetapi hanya karena kita tidak menemukan orang-orang yang tercerahkan di lingkaran teman-teman kita tidaklah berarti kita harus melepaskan harapan untuk pencerahan dapat terjadi pada orang-orang seperti kita.
Apakah anda pernah dapati diri sendiri menolak—atau mungkin meragukan—realita dari hal-hal yang belum anda alami sendiri?
Dalam Majjhima Nikaya, ada satu cerita tentang orang yang terlahir buta yang tidak bisa melihat gelap maupun terang, bentuk-bentuk berwarna, atau bintang, matahari, maupun bulan, dan dia bilang: “Saya tidak mengenal mereka. Saya tidak melihat mereka. Oleh karena itu, mereka tidak ada.”
Orang buta ini menolak apa pun yang di luar pengalamannya sendiri. Tendensi ini—untuk meragukan apa yang belum dialami—adalah hal yang cukup umum di lingkungan Dhamma Barat. Contohnya, saya mendengar orang mendiskon potensi stabilitas jhana—bersikukuh bahwa tidak mungkin untuk terampil dalam kondisi-kondisi konsentrasi stabil seperti itu di zaman sekarang ini. Saya juga mendengar orang-orang menyatakan keraguan terhadap kemungkinan terbebaskan dari keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan.
Beberapa orang, meskipun tertarik pada Dhamma, berpikir bahwa pencerahan sempurna hampirlah tidak mungkin di dunia saat ini. Tetapi hanya karena kita tidak menemukan orang-orang yang tercerahkan di lingkaran teman-teman kita tidaklah berarti kita harus melepaskan harapan untuk pencerahan dapat terjadi pada orang-orang seperti kita.
Labels:
Buddhist Laywomen,
kewaspadaan,
meditasi,
Nibbana,
Shaila Catherine
Monday, October 13, 2014
Menemukan Buddhisme di Bangladesh
Stav Zotalis
Perjalanan saya ke Buddhisme sungguh tak disangka. Saya lahir di keluarga migran Yunani Ortodoks 48 tahun lalu. Meskipun dilahirkan di Sydney, Australia, rasanya seperti tinggal di desa Yunani. Saya berbahasa Yunani di rumah, kebanyakan teman saya adalah orang Yunani, saya menghadiri sekolah Yunani (sesudah sekolah berbahasa Inggris reguler), menghadiri sekolah minggu Yunani Ortodoks, menari tarian Yunani, makan makanan Yunani, memimpikan impian Yunani (yaitu menikah dengan pria profesional Yunani, dua anak, pekerjaan dengan gaji tinggi, dan rumah dua lantai di daerah bagus). Pendeta Yunani Ortodoks memainkan peranan penting dalam hidup saya, meskipun pengaruhnya lebih pada moral dan sosial daripada spiritual. Ia membaptis saya, mendirikan sekolah Yunani yang saya hadiri, dan selalu hadir dalam acara penting seperti Natal, Paskah, pernikahan dua kakak perempuan saya kepada pria profesional Yunani, dan sayangnya, juga pada penguburan ayah saya ketika saya berusia 29 tahun.
![]() |
| Stav bersama ayahnya |
Monday, September 15, 2014
Pulang
Anja Tanhane
"Pulang itu seperti mengecilkan volume, sehingga saya bisa mendengar diri sendiri lagi."
Steve Jampijinpa, dari dokumenter, Milpirri, Winds of Change
Monday, September 1, 2014
Ikut Aku
Stephanie Mohan
Tanpa tubuh
bergetar
di luar
sana.
Makhluk kosong ini
telah melihat segala.
Pikiran dan rupa berlabel
dikondisikan karma.
Tak mengetahui penyebab lampau
menderita sekarang.
Tak tahu, tak lihat, tak di sini, tak di sana.
Bukan ini, bukan itu.
bergetar
di luar
sana.
Makhluk kosong ini
telah melihat segala.
Pikiran dan rupa berlabel
dikondisikan karma.
Tak mengetahui penyebab lampau
menderita sekarang.
Tak tahu, tak lihat, tak di sini, tak di sana.
Bukan ini, bukan itu.
Monday, August 4, 2014
Revolusi Bhikkhuni: Feminisme Religius dalam Buddhisme Thai
Tanaporn Pichitsakulchai
Brisbane, 15 Juni 2014 (Alochonaa): Karena sebagian besar masyarakat Thailand menganut Buddha Theravada, agama di Thailand tidak diragukan lagi berperan besar untuk identitas Thailand dan kehidupan sehari-hari. Dalam lingkup agama, wanita Thailand dibatasi secara tradisional ke peran umat awam wanita (upasika) dan Mae chi (biarawati Buddhis delapan sila) dalam konteks umat Buddha Thailand. Di luar Buddhisme, secara tradisional peran wanita dibatasi sebagai istri dan ibu. Dalam beberapa dekade terakhir telah ada upaya untuk menghidupkan kembali penahbisan bhikkhuni (biarawati) dalam Buddhisme Theravada Thai, meskipun upaya ini ditentang oleh Sangha Thailand dan komunitas agama yang lebih luas.
Monday, June 9, 2014
Kematian yang Intim
Leila Bazzani
Waktu kematian: 09:21 pada 19 Januari 2014, hanya dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-69. Ibuku membesarkan dua anak yang cantik, adalah istri dari seorang pria yang paling manis dan lembut yang pernah saya kenal, dan di kalangan banyak teman ia juga terkenal jujur dan baik hati. Dia hidup dengan penuh pengalaman selama 68 tahun dan melakukan perjalanan jauh, baik di dalam maupun luar batin. Dan, dia juga punya kehidupan yang susah—diisi dengan banyak hari-hari sepi dan impian yang tak terpenuhi. Berkata jujur tentang orang, baik yang hidup maupun mati, adalah hal yang baik.
Saya percaya rasa tak-nyamannya mulai ada saat dia masih sangat muda, ketika ibunya meninggal di bangsal bersalin di Glouster, Massachusetts di mana dia dibesarkan. Dia bercerita bahwa tidak seorangpun di keluarganya mendatanginya dan menceritakan apa yang telah terjadi, bahwa dia harus mencari tahu banyak hal sendiri saat itu. Jadi dia meratapi kehilangannya sebagai anak lima tahun tanpa bimbingan atau penjelasan, meratap sebisa mungkin.
Waktu kematian: 09:21 pada 19 Januari 2014, hanya dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-69. Ibuku membesarkan dua anak yang cantik, adalah istri dari seorang pria yang paling manis dan lembut yang pernah saya kenal, dan di kalangan banyak teman ia juga terkenal jujur dan baik hati. Dia hidup dengan penuh pengalaman selama 68 tahun dan melakukan perjalanan jauh, baik di dalam maupun luar batin. Dan, dia juga punya kehidupan yang susah—diisi dengan banyak hari-hari sepi dan impian yang tak terpenuhi. Berkata jujur tentang orang, baik yang hidup maupun mati, adalah hal yang baik.
Saya percaya rasa tak-nyamannya mulai ada saat dia masih sangat muda, ketika ibunya meninggal di bangsal bersalin di Glouster, Massachusetts di mana dia dibesarkan. Dia bercerita bahwa tidak seorangpun di keluarganya mendatanginya dan menceritakan apa yang telah terjadi, bahwa dia harus mencari tahu banyak hal sendiri saat itu. Jadi dia meratapi kehilangannya sebagai anak lima tahun tanpa bimbingan atau penjelasan, meratap sebisa mungkin.
Monday, May 26, 2014
Duduk, Bubu, Ayo Duduk
Sakula Mary Reinard
Salah satu hal yang saya sadari ketika pertama kali mencoba meditasi (seperti banyak orang lain) adalah pikiran mengoceh tanpa henti. Saya sangat terkejut dan kecewa pada bagaimana pikiran biasa, perasaan, atau sensasi bisa berhembus melalui pikiran saya dan tanpa ragu menggoda perhatian saya melalui bukit dan lembah, dan saya bertanya-tanya apakah pikiran dapat dilatih untuk duduk diam dan rileks?
Saya telah mempraktekkan meditasi sejak 1996, selama 18 tahun. Di tahun pertama latihan saya (saya tidak ingat siapa guru pada waktu itu) saya mengikuti petunjuk meditasi terpimpin yang menggunakan gambaran yang masih saya gunakan hingga hari ini. Gambar ini sungguh berhasil saat itu karena ia mendorong suatu sikap yang teguh, namun lembut—yang berlawanan dengan pikiran saya yang terbiasa menghakimi. Ini masih bekerja untuk saya karena latihan saya belum selesai. Saya akan melatih dengan cara ini...
![]() |
| Photo oleh Jennagu |
Saya telah mempraktekkan meditasi sejak 1996, selama 18 tahun. Di tahun pertama latihan saya (saya tidak ingat siapa guru pada waktu itu) saya mengikuti petunjuk meditasi terpimpin yang menggunakan gambaran yang masih saya gunakan hingga hari ini. Gambar ini sungguh berhasil saat itu karena ia mendorong suatu sikap yang teguh, namun lembut—yang berlawanan dengan pikiran saya yang terbiasa menghakimi. Ini masih bekerja untuk saya karena latihan saya belum selesai. Saya akan melatih dengan cara ini...
Monday, May 12, 2014
Jalan Tengah Buddha Menuju Pengetahuan: Menjembatani Sains & Spiritualitas
Susmita Barua
Oleh karena itu, menamai jalan kuno yang ditemukan oleh Buddha yang telah memutar Roda Dhamma sebagai Jalan Tengah menjadi penting maknanya. Jalan yang moderat dan bijaksana ini Jalan Mulia Berunsur Delapan: “Menghindari kedua ekstrim [dari pemanjaan-diri dan dari penolakan-diri, dan dari segalanya-ada dan segalanya-tak-ada]. Jalan Tengah yang diketahui oleh Tathagata—menghasilkan visi dan pengetahuan—mengantar pada ketenangan, pada pengetahuan melalui pengalaman sendiri, pada pengertian langsung [melalui pengalaman sendiri], pada pencerahan diri, pada ketidakmelekatan.”(1) Tulisan ini mengadvokasi pandangan bahwa Jalan Tengah dapat ditemukan kembali saat ini sebagai jalan menuju pengetahuan yang dapat menjembatani jurang antara pandangan sains material and sains spiritual.
Semua pengetahuan sains itu provisional. Segala yang “diketahui” oleh sains, bahkan fakta-fakta paling umum dan teori-teori yang telah lama ada, tetap terpapar pada studi ulang ketika informasi-informasi baru muncul.
—editorial Scientific American, Desember 2002
—editorial Scientific American, Desember 2002
Kebanyakan pendidikan kontemporer kita didominasi oleh pandangan dunia sains materialistik Barat. Pandangan dunia ini menjadi landasan orientasi kognitif perorangan, kelompok, ataupun masyarakat. Pandangan dunia ini melingkupi seluruh pengetahuan masyarakat dan sudut pandang masyarakat termasuk filosofi alam, Dhamma, etika, dan tata krama. Pandangan dunia berkembang dalam konteks bahasa, kultur, dan niaga. Ia mengkondisikan pola pikir umum, model mental, persepsi, dan kebiasaan manusia dalam membuat pilihan.
Oleh karena itu, menamai jalan kuno yang ditemukan oleh Buddha yang telah memutar Roda Dhamma sebagai Jalan Tengah menjadi penting maknanya. Jalan yang moderat dan bijaksana ini Jalan Mulia Berunsur Delapan: “Menghindari kedua ekstrim [dari pemanjaan-diri dan dari penolakan-diri, dan dari segalanya-ada dan segalanya-tak-ada]. Jalan Tengah yang diketahui oleh Tathagata—menghasilkan visi dan pengetahuan—mengantar pada ketenangan, pada pengetahuan melalui pengalaman sendiri, pada pengertian langsung [melalui pengalaman sendiri], pada pencerahan diri, pada ketidakmelekatan.”(1) Tulisan ini mengadvokasi pandangan bahwa Jalan Tengah dapat ditemukan kembali saat ini sebagai jalan menuju pengetahuan yang dapat menjembatani jurang antara pandangan sains material and sains spiritual.
Monday, April 28, 2014
Kontemplatif Awam Menjalani Hidup Seperti Monastik di Tengah Kehidupan Urban Aktif
Tuere Sala
Seorang “kontemplatif”, dalam Buddhisme tradisional, adalah seseorang yang meninggalkan kehidupan awam untuk menjadi seorang monastik [anggota Sangha]--pengelana yang meninggalkan kehidupan perumah tangga[i] untuk menjalani kehidupan suci tanpa rumah[ii]. Cara hidup komunitas monastik berbeda dari komunitas awam, tetapi ada hubungan simbiosis diantara keduanya dimana satu tak akan dapat berlangsung tanpa yang lainnya.
Namun di Barat, Buddhisme Theravada tetaplah latihan yang, secara umum, berorientasi pada umat awam, terutama yang berkegiatan di pusat-pusat Dharma dan pusat-pusat retret jangka pendek/panjang[iii]. Tak terlihat aspek-aspek religius yang identik dengan Buddhisme tradisional dalam praktek orang-orang non-Asia di Barat. Beberapa orang Barat memasuki kehidupan monastik tradisional, namun kebanyakan mempraktekkan Buddhisme sebagai filosofi sekuler, sebagai cara hidup, sebagai latihan spiritual, bahkan sebagai terapi penyembuhan.[iv]
![]() |
| Kiri ke kanan: Ruby Phillips, Devin Berry, Joan Lohman and Jenn Biehn |
Seorang “kontemplatif”, dalam Buddhisme tradisional, adalah seseorang yang meninggalkan kehidupan awam untuk menjadi seorang monastik [anggota Sangha]--pengelana yang meninggalkan kehidupan perumah tangga[i] untuk menjalani kehidupan suci tanpa rumah[ii]. Cara hidup komunitas monastik berbeda dari komunitas awam, tetapi ada hubungan simbiosis diantara keduanya dimana satu tak akan dapat berlangsung tanpa yang lainnya.
Namun di Barat, Buddhisme Theravada tetaplah latihan yang, secara umum, berorientasi pada umat awam, terutama yang berkegiatan di pusat-pusat Dharma dan pusat-pusat retret jangka pendek/panjang[iii]. Tak terlihat aspek-aspek religius yang identik dengan Buddhisme tradisional dalam praktek orang-orang non-Asia di Barat. Beberapa orang Barat memasuki kehidupan monastik tradisional, namun kebanyakan mempraktekkan Buddhisme sebagai filosofi sekuler, sebagai cara hidup, sebagai latihan spiritual, bahkan sebagai terapi penyembuhan.[iv]
Monday, April 21, 2014
Makan dengan Waspada, Sesendok Demi Sesendok
Judith Toy
Makan dengan kewaspadaan perlu latihan. Awalnya terasa seperti terpaksa, namun anda harus akui bahwa makanan terasa lebih lezat daripada sebelumnya ketika anda meletakkan garpu anda dan mengunyah setiap suapan 30 kali atau lebih, atau hingga makanan itu menjadi “lembut,” sambil memikirkan apa yang anda kunyah, menamainya—misalnya, kacang hijau.
Anda membayangkan kacang itu dulunya adalah benih yang ditanam di tanah hangat, kemudian tunas dan daun muncul berlilitan, kemudian bunga kecil seperti anggrek dengan empat kelopak, atau mekaran kelopak putih berbentuk bintang-lima dengan tengah kuning, tergantung jenis kacang itu. Anda membayangkan gambaran mental tentang sinar mentari yang jatuh pada bunga itu, bagaimana bunga itu memutar wajahnya menghadap ke cahaya, mengintip dari balik kehijauannya. Kemudian dengan perlahan dan ajaib terjadi transformasi dari bunga menjadi polong putih kecil yang berubah menjadi hijau sembari mengembang dan tumbuh di bawah sinar hangat dan siraman hujan. Dalam kacang ini, kosmos hadir.
![]() |
| Foto oleh Jamain |
Anda membayangkan kacang itu dulunya adalah benih yang ditanam di tanah hangat, kemudian tunas dan daun muncul berlilitan, kemudian bunga kecil seperti anggrek dengan empat kelopak, atau mekaran kelopak putih berbentuk bintang-lima dengan tengah kuning, tergantung jenis kacang itu. Anda membayangkan gambaran mental tentang sinar mentari yang jatuh pada bunga itu, bagaimana bunga itu memutar wajahnya menghadap ke cahaya, mengintip dari balik kehijauannya. Kemudian dengan perlahan dan ajaib terjadi transformasi dari bunga menjadi polong putih kecil yang berubah menjadi hijau sembari mengembang dan tumbuh di bawah sinar hangat dan siraman hujan. Dalam kacang ini, kosmos hadir.
Monday, April 14, 2014
Bertemu Biarawati-biarawati dari Zanskar
Dominique Butet
Fotografi oleh Olivier Adam
Untuk membaca versi original dalam bahasa Perancis (dengan foto-foto), klik disini.
Zanskar, yang terletak di ujung barat laut India di propinsi Jammu dan Kashmir, adalah suatu lembah yang terisolasi di ketinggian lebih dari 3.900 meter. Daerah itu adalah salah satu daerah ketinggian tertinggi yang berpenghuni di Himalaya. Di sana, di tengah panasnya musim panas di jalan-jalan yang berangin dan berdebu, tidaklah aneh untuk bertemu dengan lambaian riang kain-kain merah, ditutupi topi jingga berbahan felt— dan juga para biarawati berlalu-lalang! Banyak biara-biara perempuan yang telah didirikan di sana, bertengger tinggi di lembah.
Saat ini, Zanskar memiliki sepuluh biara perempuan, sembilan diantaranya bernaung pada ordo Gelugpa. Beberapa, seperti Karsha dan Dorje Dzong, terletak dekat Padum, yang merupakan ibukota wilayah, sementara lainnya seperti Pishu lebih terisolasi. Beberapa didiami hingga 20 biarawati, sementara lainnya didiami tujuh atau delapan. Beberapa punya sekolah, yang lainnya tidak—atau belum. Di musim dingin, ketika semua pipa membeku, para biarawati berjalan jauh ke sungai untuk mengambil air, memecahkan es dan kemudian mendaki lagi dengan cepat untuk mendapatkan perlindungan di kamar-kamar di mana atap-atapnya tidak begitu terinsulasi sehingga salju dan dingin meresap masuk. Tetapi adalah isolasi mendalam itulah yang seseorang perlukan untuk bertahan hidup, suatu isolasi yang hanya ritual-ritual panjang yang dapat melampauinya. Namun, semuanya memiliki tekad tanpa-kompromi untuk terus dan berkembang, mengaduk semangat spiritual dengan rasa kehidupan kolektif yang luar biasa dimana semua [orang] dari berbagai usia hidup bersama, dari usia sembilan hingga lebih dari 84 tahun!
Fotografi oleh Olivier Adam
Untuk membaca versi original dalam bahasa Perancis (dengan foto-foto), klik disini.
Zanskar, yang terletak di ujung barat laut India di propinsi Jammu dan Kashmir, adalah suatu lembah yang terisolasi di ketinggian lebih dari 3.900 meter. Daerah itu adalah salah satu daerah ketinggian tertinggi yang berpenghuni di Himalaya. Di sana, di tengah panasnya musim panas di jalan-jalan yang berangin dan berdebu, tidaklah aneh untuk bertemu dengan lambaian riang kain-kain merah, ditutupi topi jingga berbahan felt— dan juga para biarawati berlalu-lalang! Banyak biara-biara perempuan yang telah didirikan di sana, bertengger tinggi di lembah.
Saat ini, Zanskar memiliki sepuluh biara perempuan, sembilan diantaranya bernaung pada ordo Gelugpa. Beberapa, seperti Karsha dan Dorje Dzong, terletak dekat Padum, yang merupakan ibukota wilayah, sementara lainnya seperti Pishu lebih terisolasi. Beberapa didiami hingga 20 biarawati, sementara lainnya didiami tujuh atau delapan. Beberapa punya sekolah, yang lainnya tidak—atau belum. Di musim dingin, ketika semua pipa membeku, para biarawati berjalan jauh ke sungai untuk mengambil air, memecahkan es dan kemudian mendaki lagi dengan cepat untuk mendapatkan perlindungan di kamar-kamar di mana atap-atapnya tidak begitu terinsulasi sehingga salju dan dingin meresap masuk. Tetapi adalah isolasi mendalam itulah yang seseorang perlukan untuk bertahan hidup, suatu isolasi yang hanya ritual-ritual panjang yang dapat melampauinya. Namun, semuanya memiliki tekad tanpa-kompromi untuk terus dan berkembang, mengaduk semangat spiritual dengan rasa kehidupan kolektif yang luar biasa dimana semua [orang] dari berbagai usia hidup bersama, dari usia sembilan hingga lebih dari 84 tahun!
Monday, March 24, 2014
Sangha adalah Kata Kerja: Membudayakan Praktek Relasional untuk Memupuk Inklusivitas
Sebene Selassie
Belakangan ini, ada perhatian, diskusi — dan kontroversi — di sangha konversi US tentang tentang keanekaragaman di masyarakat kita. Kebanyakan anggota sangha terdiri dari masyarakat berkulit putih, kelas menengah dan menengah-ke-atas dan mereka mengakui adanya aspirasi untuk menjadi lebih beragam, tetapi adalah sebuah tantangan untuk bagaimana mengaktualisasikannya di kota-kota di mana terjadi segregasi rasial, ekonomi, dan budaya. Harapan bahwa komunitas-komunitas kita untuk mencerminkan kekayaan negara dan dunia kita adalah bagian dari upaya mulia untuk mewujudkan cinta kasih sepenuhnya. Selama dharma berkembang dalam masyarakat multicultural kita, kita memiliki kesempatan — bahkan kewajiban — untuk memahami dan mengubah pemisahan yang terus berlangsung dalam identitas relatif ini.
Belakangan ini, ada perhatian, diskusi — dan kontroversi — di sangha konversi US tentang tentang keanekaragaman di masyarakat kita. Kebanyakan anggota sangha terdiri dari masyarakat berkulit putih, kelas menengah dan menengah-ke-atas dan mereka mengakui adanya aspirasi untuk menjadi lebih beragam, tetapi adalah sebuah tantangan untuk bagaimana mengaktualisasikannya di kota-kota di mana terjadi segregasi rasial, ekonomi, dan budaya. Harapan bahwa komunitas-komunitas kita untuk mencerminkan kekayaan negara dan dunia kita adalah bagian dari upaya mulia untuk mewujudkan cinta kasih sepenuhnya. Selama dharma berkembang dalam masyarakat multicultural kita, kita memiliki kesempatan — bahkan kewajiban — untuk memahami dan mengubah pemisahan yang terus berlangsung dalam identitas relatif ini.
Monday, March 10, 2014
Tidak Ada Selfie
Jenna Vondrasek
Potret diri sendiri, yang pernah dianggap sebagai representasi dari suatu karya seni, telah berevolusi menjadi konsep terobosan baru: selfie [mengambil foto diri sendiri]. Selfie menjadi sangat populer dengan adanya teknologi ponsel pintar. Mengambil selfie melibatkan membalik kamera dan mengambil foto diri kita sendiri–sering kali dengan posisi yang membuat kita terlihat lebih menarik. Bertambahnya jumlah selfie dengan pesat dan memenuhi media sosial seperti Facebook dan Instagram, kita harus mempertanyakan alasan di balik kehebohan ini. Kepentingan dasar dari suatu selfie mengkomunikasikan pengenalan diri dan identitas dan juga rasa berlebih-lebihan dan obsesi terhadap diri.
![]() | ||
| Jenna Vondrasek di Big Sur, California - tempat yang paling disukainya di dunia |
Monday, February 10, 2014
Wawancara Wanita Buddhis: Miskaman Rujavichai
Brooke Schedneck
Miskaman Rujavichai adalah murid bikkhu Thailand terkenal, almarhum Luang Ta Maha Boowa [1] (1913-2011). Sejak tahun 1982, Miskaman tinggal di biara Wat Pa Baan Taad [Biara Hutan Baan Taad], yang didirikan oleh dan di mana Luang Ta Maha Boowa adalah kepala biara selama bertahun-tahun. Saya bertemu Miskaman saat melakukan riset untuk disertasi saya tentang komunitas meditasi internasional di Thailand. Di biara tersebut, satu grup internasional akan bertemu seminggu sekali untuk mendengarkan ceramah Dhamma dari bhikkhu-bhikkhu yang berbahasa Inggris. Miskaman adalah salah satu wajah ramah di grup ini yang membantu para pengunjung internasional. Saya membuat website penelitian yang dinamai Wandering Dhamma untuk hasil temuan saya, dan Miskaman terus berhubungan dengan mengomentari situs dan mengirimkan email ketika ada perkembangan baru di kelompok internasional di Wat Pa Baan Taad. Aku meminta Miskaman untuk bercerita lebih banyak tentang kenangannya dari Luang Ta Maha Boowa dan bagaimana ia datang untuk tinggal di biara itu. Pada awalnya dia tidak ingin mengungkapkan informasi ini, menyebutkan wanita-wanita lain ia dianggap sebagai praktisi-praktisi yang lebih baik. Aku akhirnya berhasil meyakinkannya bahwa ceritanya menarik bagi pembaca blog Sakyadhita.
![]() |
| Miskaman Rujavichai di Wat Pa Baan Taad |
Miskaman Rujavichai adalah murid bikkhu Thailand terkenal, almarhum Luang Ta Maha Boowa [1] (1913-2011). Sejak tahun 1982, Miskaman tinggal di biara Wat Pa Baan Taad [Biara Hutan Baan Taad], yang didirikan oleh dan di mana Luang Ta Maha Boowa adalah kepala biara selama bertahun-tahun. Saya bertemu Miskaman saat melakukan riset untuk disertasi saya tentang komunitas meditasi internasional di Thailand. Di biara tersebut, satu grup internasional akan bertemu seminggu sekali untuk mendengarkan ceramah Dhamma dari bhikkhu-bhikkhu yang berbahasa Inggris. Miskaman adalah salah satu wajah ramah di grup ini yang membantu para pengunjung internasional. Saya membuat website penelitian yang dinamai Wandering Dhamma untuk hasil temuan saya, dan Miskaman terus berhubungan dengan mengomentari situs dan mengirimkan email ketika ada perkembangan baru di kelompok internasional di Wat Pa Baan Taad. Aku meminta Miskaman untuk bercerita lebih banyak tentang kenangannya dari Luang Ta Maha Boowa dan bagaimana ia datang untuk tinggal di biara itu. Pada awalnya dia tidak ingin mengungkapkan informasi ini, menyebutkan wanita-wanita lain ia dianggap sebagai praktisi-praktisi yang lebih baik. Aku akhirnya berhasil meyakinkannya bahwa ceritanya menarik bagi pembaca blog Sakyadhita.
Monday, January 20, 2014
Kewaspadaan dalam Buddhisme Modern: Pendekatan dan Pengertian Baru
Tamara Ditrich
Pendahuluan
Meditasi kewaspadaan (sati dalam bahasa Pāli; smṛti dalam bahasa Sansekerta) adalah satu dari metode meditasi utama yang memainkan peranan menonjol dalam banyak praktek meditasi Buddhis tradisional dan modern. Penyebaran teknik-teknik meditasi Buddhis akhir-akhir ini di seluruh dunia telah memudahkan pengenalan akan [meditasi] kewaspadaan ke dalam berbagai lingkungan baru, baik dalam peran tradisionalnya juga dalam peran barunya: sebagai suatu jalan menuju pembebasan spiritual dan pencerahan, sebagai suatu perangkat terapi, sebagai suatu teknik relaksasi dalam industri kesehatan, dll.
Pendahuluan
Meditasi kewaspadaan (sati dalam bahasa Pāli; smṛti dalam bahasa Sansekerta) adalah satu dari metode meditasi utama yang memainkan peranan menonjol dalam banyak praktek meditasi Buddhis tradisional dan modern. Penyebaran teknik-teknik meditasi Buddhis akhir-akhir ini di seluruh dunia telah memudahkan pengenalan akan [meditasi] kewaspadaan ke dalam berbagai lingkungan baru, baik dalam peran tradisionalnya juga dalam peran barunya: sebagai suatu jalan menuju pembebasan spiritual dan pencerahan, sebagai suatu perangkat terapi, sebagai suatu teknik relaksasi dalam industri kesehatan, dll.
Walaupun Buddhisme modern, setidaknya hingga titik tertentu, telah mempertahankan aspek etis dan soteriologicalnya dalam praktek kewaspadaan, ada penekanan yang berkembang pada fungsi psikoterapisnya. Artikel ini menelusuri interpretasi baru mengenai kewaspadaan yang telah berkembang dalam beberapa dekade terakhir ini dalam cara-ara radikal dalam praktek radikal, yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Buddhisme.
Monday, January 13, 2014
Mengapung di Tengah Penderitaan
Jacqueline Kramer
Topan menghancurkan kota dan membunuh ribuan orang di Filipina, Haiti yang telah terkepung kesengsaraan mengalami kehancuran parah, ribuan pria, wanita dan anak-anak mengungsi dari rumah mereka di Suriah, anak-anak di Sudan diperbudak sebagai tentara dan pelacur—penderitaan tersebar luas di berbagai belahan dunia—pembunuhan antar ras, perampasan tanah, pemerkosaan dan bencana alam —sejak mulai berjalannya waktu.
Tetapi dulu manusia tidak terekspos pada penderitaan orang lain di luar komunitas kita sendiri sebanyak yang kita sekarang. Apakah hati kita manusia dirancang untuk menampung kesadaran akan penderitaan yang luas dan konstan yang dipasok setiap hari di dunia kita yang terhubung-berita? Apa yang manusia yang berhati harus lakukan? Kita tidak ingin menutup pintu hati kita. Kalaupun mungkin menutup pintu itu, hati kita sepertinya merembes melalui celah-celah sistem kontrol kita. Jika kita menutup rasa sakit, kita juga menutup kegembiraan. Hati yang tertutup tak peka terhadap perasaan. Namun tetap saja, kita tidak ingin terbenam oleh kesedihan. Kita tidak berguna bagi diri kita sendiri atau orang lain ketika kita dilumpuhkan kesedihan.
Topan menghancurkan kota dan membunuh ribuan orang di Filipina, Haiti yang telah terkepung kesengsaraan mengalami kehancuran parah, ribuan pria, wanita dan anak-anak mengungsi dari rumah mereka di Suriah, anak-anak di Sudan diperbudak sebagai tentara dan pelacur—penderitaan tersebar luas di berbagai belahan dunia—pembunuhan antar ras, perampasan tanah, pemerkosaan dan bencana alam —sejak mulai berjalannya waktu.
Tetapi dulu manusia tidak terekspos pada penderitaan orang lain di luar komunitas kita sendiri sebanyak yang kita sekarang. Apakah hati kita manusia dirancang untuk menampung kesadaran akan penderitaan yang luas dan konstan yang dipasok setiap hari di dunia kita yang terhubung-berita? Apa yang manusia yang berhati harus lakukan? Kita tidak ingin menutup pintu hati kita. Kalaupun mungkin menutup pintu itu, hati kita sepertinya merembes melalui celah-celah sistem kontrol kita. Jika kita menutup rasa sakit, kita juga menutup kegembiraan. Hati yang tertutup tak peka terhadap perasaan. Namun tetap saja, kita tidak ingin terbenam oleh kesedihan. Kita tidak berguna bagi diri kita sendiri atau orang lain ketika kita dilumpuhkan kesedihan.
Subscribe to:
Posts (Atom)

















