Monday, June 16, 2014

Buddhisme Theravada dan Tujuan Pembangunan Milenium 3: Kesetaraan Jender and Pemberdayaan Wanita dalam Buddhisme Theravada

Jurnal berikut ditulis oleh Ajahn Brahm untuk menginspirasi para Buddhis untuk berkontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Milenium PBB, terutama tujuan ketiga “Mempromosi Kesetaraan Jender dan Memberdayakan Wanita.”

Ajahn Brahm menjelaskan bahwa Sang Buddha menempatkan monastik wanita di tempat utama dalam Dhamma, dan mereka telah membuat kontribusi luar biasa untuk Dhamma dan untuk kesejahteraan semua orang. Meskipun ada argumen-argumen yang berbeda pandangan, namun sejarah Buddhisme, prinsip-prinsip Buddhis, dan Vinaya tidak memberikan basis logis apapun untuk menolak legalitas penahbisan bhikkhuni Theravada masa ini. Ajahn Brahm mendorong anggota monastik dan umat untuk membuka mata pada fakta-fakta ini. Ia juga meminta pemimpin-pemimpin agama, terutama pemimpin Buddhis Theravada, untuk memimpin melalui tindakan, mulai dari tradisi agama mereka sendiri sehingga mereka dapat benar-benar menginspirasi pengikut Buddhis untuk bekerja untuk kesetaraan jender dan dunia yang lebih baik.

Tulisan ini seharusnya dipaparkan dalam International Committee for the United Nations Day of Vesak, tanggal 8 Mei 2014, yang mengangkat tema “Perspektif Buddhis terhadap Mencapai Tujuan-Tujuan Pembangunan Milenium PBB.” Namun, pemaparan itu dibatalkan oleh pihak penyelenggara beberapa saat sebelum presentasi tanpa cukup penjelasan dan sejak itu telah mendapatkan banyak respon dari Buddhis di seluruh dunia.



 *   *   *   *

Kesetaraan Jender and Pemberdayaan Wanita dalam Buddhisme Theravada


Oleh Ajahn Brahm

Ajahn Brahm
Pada tanggal 1 Desember 1955, di Montgomery Alabama, seorang wanita Afrika-Amerika menolak untuk mengikuti perintah seorang supir bus untuk memberikan tempat duduknya kepada seorang penumpang kulit putih. Tindakan penentangan sederhana untuk tujuan keadilan sosial ini menjadi salah satu dari beberapa simbol penting dalam Gerakan Hak Asasi Manusia modern di Amerika Serikat. Orang itu adalah Rosa Parks. Kongres Amerika Serikat memberikannya julukan “perempuan hak asasi manusia pertama” dan “bunda pergerakan kebebasan”. Tanggal 1 Desember dirayakan di Negara Bagian California dan Ohio sebagai “Hari Rosa Parks”. Rosa Parks menjadi seorang Buddhis sebelum ia meninggal pada tahun 2005 di usia 92. Kita bisa berspekulasi bahwa ikon perempuan terhadap diskriminasi ini memilih Buddhisme karena Buddhisme sangat sesuai untuk memajukan isu-isu keadilan sosial. 

Di tulisan ini, saya akan mendiskusikan bagaimana Buddhisme mungkin memajukan isu keadilan sosial khusus dalam Tujuan Pembangunan Milenium Ketiga: Kesetaraan Jender and Pemberdayaan Perempuan (Millennium Development Goal No. 3: Gender Equality and the Empowerment of Women). Saya juga akan berfokus pada perlunya bagi kepemimpinan laki-laki Theravada Buddhisme saat ini untuk dengan jelas mendemonstrasikan menunjukkan komitmennya sendiri pada MGD 3 dengan menerima penahbisan (ordinasi) bhikkhuni. Hanya dengan begitulah cara itulah ia dapat menggunakan pengaruh besarnya untuk membuat dunia kita menjadi lebih adil, di mana orang-orang dinilai berdasarkan karakternya dan bukan berdasarkan jendernya. 

Monday, June 9, 2014

Kematian yang Intim

Leila Bazzani

Waktu kematian: 09:21 pada 19 Januari 2014, hanya dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-69. Ibuku membesarkan dua anak yang cantik, adalah istri dari seorang pria yang paling manis dan lembut yang pernah saya kenal, dan di kalangan banyak teman ia juga terkenal jujur dan baik hati. Dia hidup dengan penuh pengalaman selama 68 tahun dan melakukan perjalanan jauh, baik di dalam maupun luar batin. Dan, dia juga punya kehidupan yang susah—diisi dengan banyak hari-hari sepi dan impian yang tak terpenuhi. Berkata jujur tentang orang, baik yang hidup maupun mati, adalah hal yang baik.

Saya percaya rasa tak-nyamannya mulai ada saat dia masih sangat muda, ketika ibunya meninggal di bangsal bersalin di Glouster, Massachusetts di mana dia dibesarkan. Dia bercerita bahwa tidak seorangpun di keluarganya mendatanginya dan menceritakan apa yang telah terjadi, bahwa dia harus mencari tahu banyak hal sendiri saat itu. Jadi dia meratapi kehilangannya sebagai anak lima tahun tanpa bimbingan atau penjelasan, meratap sebisa mungkin.

Monday, June 2, 2014

Melepas: Sebuah refleksi oleh Ajahn Candasirī

Ajahn Candasirī

Berjalan di Dunruchan Stone, Perthshire,
Scotland
Hidup ini tidak pasti. Refleksi inilah yang mendorong Siddhartha Gotama, seorang pangeran muda, untuk meninggalkan perlindungan semu keluarga dan istananya di mana ia dibesarkan untuk mencari keamanan dan kedamaian batin yang lebih handal. Banyak orang mungkin merasa apa yang ia temukan selama pencarian itu lebih mengejutkan lagi.

Ia melepaskan posisinya, relasinya, dan kenyamanan materinya, dan membuat upaya begitu besar untuk menundukkan dorongan nafsu keinginan, semua dalam upaya untuk menemukan ketenangan pikiran—hanya untuk menemukan bahwa pikiran pun bukan 'miliknya' sama sekali! Setelah enam tahun berusaha keras, ketika ia mencapai pemahaman itu, yang tersisa adalah kedamaian yang tak tergoyahkan. Dia tidak lagi memiliki apapun yang perlu dikhawatirkan atau dilindungi. Tidak ada lagi alasan untuk menganggap dirinya sebagai diri dengan 'kepribadian' yang harus dipertahankan berapapun juga harganya. Ia bebas.

Menghargai kemungkinan kita masing-masing untuk menemukan dan mengetahui hal ini untuk diri kita sendiri sangat menarik bagi saya dan melihatnya secara sepintas—meskipun sekilas—adalah sesuatu yang membuat saya tetap berjalan di jalan ini. Kejadian eksternal dapat terjadi tiba-tiba, mengganggu, dan dramatis; dapat juga tragis dan membingungkan. Mereka juga memberikan peringatan keras, dan dapat membantu kita untuk menyadari kerapuhan 'dunia kita'; mereka dapat menjadi dorongan untuk terus mencondongkan kita menuju keadaan stabilitas batin. Pertanyaan-pertanyaan muncul: "Tapi bagaimanakah cara kita melakukannya?”, “Bagaimana cara kita dapat mencapai keadaan itu untuk diri kita sendiri?”.

Monday, May 26, 2014

Duduk, Bubu, Ayo Duduk

Sakula Mary Reinard

Photo oleh Jennagu
Salah satu hal yang saya sadari ketika pertama kali mencoba meditasi (seperti banyak orang lain) adalah pikiran mengoceh tanpa henti. Saya sangat terkejut dan kecewa pada bagaimana pikiran biasa, perasaan, atau sensasi bisa berhembus melalui pikiran saya dan tanpa ragu menggoda perhatian saya melalui bukit dan lembah, dan saya bertanya-tanya apakah pikiran dapat dilatih untuk duduk diam dan rileks?

Saya telah mempraktekkan meditasi sejak 1996, selama 18 tahun. Di tahun pertama latihan saya (saya tidak ingat siapa guru pada waktu itu) saya mengikuti petunjuk meditasi terpimpin yang menggunakan gambaran yang masih saya gunakan hingga hari ini. Gambar ini sungguh berhasil saat itu karena ia mendorong suatu sikap yang teguh, namun lembut—yang berlawanan dengan pikiran saya yang terbiasa menghakimi. Ini masih bekerja untuk saya karena latihan saya belum selesai. Saya akan melatih dengan cara ini...

Monday, May 19, 2014

Kontribusi Wanita Pada Buddhisme

Nona Sarana Olivia

Kelahiran Buddha, Pakistan (Gandhara) Abad ke-2 setelah masehi

Jurnal berjudul Sati Journal adalah publikasi oleh Sati Center for Buddhist Studies [di Amerika Serikat]. Pusat ini mendukung studi ajaran-ajaran Buddhis dengan perspektif yang menyeimbangi penyelidikan ilmiah dengan praktek meditasi serius. Dengan keyakinan bahwa studi dan praktik bekerja bersamaan dalam memperdalam latihan seseorang dan menunjang pencerahan, tujuan Sati Center adalah untuk membantu para peserta mengekslorasi teks-teks Buddhis asli dan mengapresiasi kekayaan tradisi dan ordo.

Pada musim gugur tahun 2011, saya sangat gembira ketika Gil Fronsdal dan Jeff Hardin meminta saya untuk menjadi editor tamu untuk satu edisi yang didedikasikan untuk para wanita di Buddhisme. Berikut ini adalah sinopsis dari pendahuluan di edisi ini. Dalam memilih tulisan [untuk dimuat], saya memutuskan untuk melakukan pendekatan pada topik wanita Buddhis melalui lensa tiga tema yang saling berhubungan: cendikia Buddhis zaman dulu, representasi simbolis tentang jender, dan pemimpin-pemimpin kontemporer yang penuh inspirasi. Edisi ini memuat esai-esai oleh Rita Gross, Noa Ronkin, Dawn Neal, Jetsunma Tenzin Palmo, Ajahn Amaro, dan Bhikkhu Analayo.

Monday, May 12, 2014

Jalan Tengah Buddha Menuju Pengetahuan: Menjembatani Sains & Spiritualitas

Susmita Barua

Semua pengetahuan sains itu provisional. Segala yang “diketahui” oleh sains, bahkan fakta-fakta paling umum dan teori-teori yang telah lama ada, tetap terpapar pada studi ulang ketika informasi-informasi baru muncul.
—editorial Scientific American, Desember 2002

Kebanyakan pendidikan kontemporer kita didominasi oleh pandangan dunia sains materialistik Barat. Pandangan dunia ini menjadi landasan orientasi kognitif perorangan, kelompok, ataupun masyarakat. Pandangan dunia ini melingkupi seluruh pengetahuan masyarakat dan sudut pandang masyarakat termasuk filosofi alam, Dhamma, etika, dan tata krama. Pandangan dunia berkembang dalam konteks bahasa, kultur, dan niaga. Ia mengkondisikan pola pikir umum, model mental, persepsi, dan kebiasaan manusia dalam membuat pilihan. 


Oleh karena itu, menamai jalan kuno yang ditemukan oleh Buddha yang telah memutar Roda Dhamma sebagai Jalan Tengah menjadi penting maknanya. Jalan yang moderat dan bijaksana ini Jalan Mulia Berunsur Delapan: “Menghindari kedua ekstrim [dari pemanjaan-diri dan dari penolakan-diri, dan dari segalanya-ada dan segalanya-tak-ada]. Jalan Tengah yang diketahui oleh Tathagata—menghasilkan visi dan pengetahuan—mengantar pada ketenangan, pada pengetahuan melalui pengalaman sendiri, pada pengertian langsung [melalui pengalaman sendiri], pada pencerahan diri, pada ketidakmelekatan.”(1) Tulisan ini mengadvokasi pandangan bahwa Jalan Tengah dapat ditemukan kembali saat ini sebagai jalan menuju pengetahuan yang dapat menjembatani jurang antara pandangan sains material and sains spiritual. 

Monday, May 5, 2014

Bagaimana Kami Tampil : Bercerita, Membangun Pergerakan, dan Kesunyataan Mulia Pertama

Mushim Ikeda

Proyek Keterlibatan Komunitas yang didirikan oleh Yemi Olu berusaha untuk membawa perubahan di dunia
dengan menjangkau orang-orang. Mereka mengumpulkan kisah-kisah di luar Chinatown Metro di DC.
Foto oleh Victoria Pickering.

Bagi saya, sering ada potongan gambar (puzzle) yang penting hilang dalam dialog-dialog Buddhis yang terlibat secara sosial, dalam kedua dialog baik tatap muka maupun terutama secara online saat dimana kita menyuarakan pendapat kita. Sekarang ini saya sangat merasakan bahwa ada penderitaan yang rupanya tak terlihat dikarenakan oleh linearitas dan ketidak-berwujudan di forum-forum aktivis online,  dan saya bertanya-tanya adakah strategi-strategi pengaturan dan metode-metode pembangunan – gerakan yang dapat menyikapinya. Bagaimana kita bisa saling  melihat, mendengar dan merasakan satu sama lain dengan lebih jelas dikala kita berusaha mencari tahu bagaimana memulai gerakan perubahan sistematis dalam kekuasaan dan dominasi  sistem global yang rumit? Jadi  bagaimana kita tampil dan berhadapan satu sama lain ketika kita mengekspresikan pandangan-pandangan kita? Adakah waktu dan ruang serta dukungan untuk pilin mendongeng dan berbagi?