Ajahn Brahm menjelaskan bahwa Sang Buddha menempatkan monastik wanita di tempat utama dalam Dhamma, dan mereka telah membuat kontribusi luar biasa untuk Dhamma dan untuk kesejahteraan semua orang. Meskipun ada argumen-argumen yang berbeda pandangan, namun sejarah Buddhisme, prinsip-prinsip Buddhis, dan Vinaya tidak memberikan basis logis apapun untuk menolak legalitas penahbisan bhikkhuni Theravada masa ini. Ajahn Brahm mendorong anggota monastik dan umat untuk membuka mata pada fakta-fakta ini. Ia juga meminta pemimpin-pemimpin agama, terutama pemimpin Buddhis Theravada, untuk memimpin melalui tindakan, mulai dari tradisi agama mereka sendiri sehingga mereka dapat benar-benar menginspirasi pengikut Buddhis untuk bekerja untuk kesetaraan jender dan dunia yang lebih baik.
Tulisan ini seharusnya dipaparkan dalam International Committee for the United Nations Day of Vesak, tanggal 8 Mei 2014, yang mengangkat tema “Perspektif Buddhis terhadap Mencapai Tujuan-Tujuan Pembangunan Milenium PBB.” Namun, pemaparan itu dibatalkan oleh pihak penyelenggara beberapa saat sebelum presentasi tanpa cukup penjelasan dan sejak itu telah mendapatkan banyak respon dari Buddhis di seluruh dunia.
* * * *
Kesetaraan Jender and Pemberdayaan Wanita dalam Buddhisme Theravada
Oleh Ajahn Brahm
![]() |
| Ajahn Brahm |
Pada tanggal 1 Desember 1955, di Montgomery Alabama, seorang wanita Afrika-Amerika menolak untuk mengikuti perintah seorang supir bus untuk memberikan tempat duduknya kepada seorang penumpang kulit putih. Tindakan penentangan sederhana untuk tujuan keadilan sosial ini menjadi salah satu dari beberapa simbol penting dalam Gerakan Hak Asasi Manusia modern di Amerika Serikat. Orang itu adalah Rosa Parks. Kongres Amerika Serikat memberikannya julukan “perempuan hak asasi manusia pertama” dan “bunda pergerakan kebebasan”. Tanggal 1 Desember dirayakan di Negara Bagian California dan Ohio sebagai “Hari Rosa Parks”. Rosa Parks menjadi seorang Buddhis sebelum ia meninggal pada tahun 2005 di usia 92. Kita bisa berspekulasi bahwa ikon perempuan terhadap diskriminasi ini memilih Buddhisme karena Buddhisme sangat sesuai untuk memajukan isu-isu keadilan sosial.
Di tulisan ini, saya akan mendiskusikan bagaimana Buddhisme mungkin memajukan isu keadilan sosial khusus dalam Tujuan Pembangunan Milenium Ketiga: Kesetaraan Jender and Pemberdayaan Perempuan (Millennium Development Goal No. 3: Gender Equality and the Empowerment of Women). Saya juga akan berfokus pada perlunya bagi kepemimpinan laki-laki Theravada Buddhisme saat ini untuk dengan jelas mendemonstrasikan menunjukkan komitmennya sendiri pada MGD 3 dengan menerima penahbisan (ordinasi) bhikkhuni. Hanya dengan begitulah cara itulah ia dapat menggunakan pengaruh besarnya untuk membuat dunia kita menjadi lebih adil, di mana orang-orang dinilai berdasarkan karakternya dan bukan berdasarkan jendernya.






